GAMBARAN UMUM PENGADILAN AGAMA SANGATTA

Berdasarkan Pasal 24 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945  yang telah diamandemen,  dinyatakan bahwa  “Kekuasaan Kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada dibawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi”. Dengan amandemen tersebut, maka Undang-Undang Nomor 14 tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaaan Kehakiman  diganti dengan Undang-Undang Nomor 4  Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman.

Dalam pasal 13 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004, dinyatakan bahwa “Organisasi, administrasi, dan finansial Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada dibawahnya berada di bawah kekuasaan Mahkamah Agung”, sedangkan dalam pasal 42 ayat (2) dinyatakan bahwa “Pengalihan organisasi, administrasi, dan finansial dalam lingkungan Peradilan Agama selesai dilaksanakan paling lambat tanggal 30 Juni 2004” dan sebagai realisasi dari pasal tersebut, maka pada tanggal 30 Juni 2004  telah dilaksanakan penyerahan lembaga peradilan agama oleh Departemen Agama ke Mahkamah Agung R.I., sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 21 Tahun 2004  tentang Pengalihan Organisasi, Administrasi dan Finansial di semua lingkungan Peradilan ke Mahkamah Agung.
Dalam pasal 13 ayat (3) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004, dinyatakan bahwa “Ketentuan mengenai organisasi, administrasi, dan finansial badan peradilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk masing-masing lingkungan peradilan  diatur dalam undang-undang sesuai dengan kekhususan lingkungan peradilan masing-masing”. Dan dalam pasal 14 ayat (1)  dinyatakan bahwa “Susunan, kekuasaan dan hukum acara Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya  sebagaimana dimaksud dalam pasal 10  diatur dengan undang-undang tersendiri”. Sebagai realisasi dari pasal 13 ayat (3) dan Pasal 14 ayat (1) tersebut, lahirlah Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2005  tentang  Perubahan atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005  tentang  Perubahan atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum,  dan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2005  tentang  Perubahan atas  Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara.  Sedangkan untuk Peradilan Agama juga telah  ada perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 tahun 1989  tentang Peradilan Agama,  yakni Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 tahun 1989  tentang Peradilan Agama.
Undang-undang Nomor  3 Tahun 2006  tersebut di atas, tidak hanya berisi tentang Penyatu atapan Badan Peradilan Agama dibawah Mahkamah Agung saja, akan tetapi juga berisi tentang penambahan kewenangan Peradilan Agama diantaranya adalah tentang Ekonomi Syariah.  Dengan bertambahnya kewenangan ini makin berat pula beban dan kewajiban Peradilan Agama.  Seluruh aparatnya khususnya para hakim dituntut untuk menguasai seluruh syari’at Islam termasuk seluk beluk tentang  Ekonomi Syari’ah yang kontemporer maupun Ahkamul Mu’amalat dan  hubungannya dengan Bank Indonesia serta permasalahan hukum yang timbul kemudian.
Pembangunan Pengadilan Agama Sangatta yang telah diresmikan oleh ketua Mahkamah Agung RI Prof. DR. Bagir Manan, tanggal 20 Agustus 2008 sebagai salah satu pelaksana Kekuasaan Kehakiman yang bertugas menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila dengan tugas pokok  menerima,  memeriksa  dan  mengadili  serta menyelesaikan  setiap perkara  yang diajukan kepadanya dan tugas lain yang diberikan  berdasarkan undang-undang.
Pengadilan Agama Sangatta yang terletak di Kabupaten Kutai Timur dengan ibukota Sangatta merupakan salah satu wilayah dari pemekaran Kabupaten Kutai, sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 47 Tahun 1999, tentang pemekaran wilayah Propinsi dan Kabupaten.
Kabupaten ini diresmikan oleh ad interin Menteri Dalam Negeri pada  tanggal 12 Oktober 1999 dan ditingkat daerah diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Timur pada tanggal 28 Oktober 1999.
Seiring dengan pemekaran wilayah kabupaten tersebut, terbentuk pula Pengadilan Agama Sangatta berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 62 Tahun 2002, tentang pembentukan Pengadilan Agama Muara Tebo, Pengadilan Agama Sangeti, Pengadilan Agama Gunung Sugih, Pengadilan Agama Blambangan Umpu, Pengadilan Agama Depok, Pengadilan Agama Bontang, Pengadilan Agama Sangatta, Pengadilan Agama Buol, Pengadilan Agama Bungku, Pengadilan Agama Banggai, dan Pengadilan Agama Tilamuta.
Pengadilan Agama Sangatta diresmikan oleh Direktur Pembinaan Peradilan Agama pada tanggal 26 Maret 2006.

 

Referensi Tambahan :

SANGATTA KABUPATEN KUTAI TIMUR KALIMANTAN TIMUR

Daftar isi

 

Kecamatan Sangatta


Peta lokasi Kecamatan Sangatta

Provinsi

Kalimantan Timur

Kabupaten

Kutai Timur

Camat

-

Luas

3.861,26 km²

Jumlah penduduk

63.782 (2004)

- Kepadatan

16,36 jiwa/km²

Desa/kelurahan

-/4

 

Sangatta adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Kutai Timur, provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Kecamatan yang juga sebagai pusat peemrintahan (ibukota) Kabupaten Kutai Timur ini memiliki luas 3.861,26 km² yang merupakan 10,8% dari luas wilayah Kabupaten Kutai Timur. Berdasarkan data statistik tahun 2004, berpenduduk 63.782 jiwa dengan kepadatan penduduk rata-rata 16,36 jiwa/km².[1]

Desa/kelurahan

Desa-desa yang berada di kecamatan Sangatta (setelah pemekaran kecamatan Sangatta menjadi 4 wilayah pada tanggal 31 Oktober 2005) adalah sebagai berikut :

  1. Sengata Utara
  2. Teluk Lingga
  3. Singa Gembara
  4. Swarga Bara

Direncanakan desa-desa tersebut akan ditingkatkan statusnya menjadi kelurahan pada pada tahun 2010 usai Pilkada Kutim.

Kondisi geografi

  • Kabupaten Kutai Timur, semula merupakan bagian dari kabupaten Kutai yang luasnya hampir sama dengan luas Jawa Timur.
  • Curah Hujan : 1700-2000 mm/tahun
  • Klasifikasi Lereng : > 20%
  • Rata-rata kedalaman muka air tanah: 80 cm
  • Ketinggian tanah 5-100 meter diatas muka air laut[1]

Sarana sosial/kemasyarakatan

  • Untuk menuju ke Sangata, dapat ditempuh melalui jalan darat dengan menggunakan mobil, atau melalui udara dengan menggunakan pesawat terbang. Apabila menggunakan mobil, diperlukan waktu selama dua jam perjalanan darat dari kota Bontang ke Sangata, empat jam dari Samarinda atau enam jam dari Balikpapan. Sedangkan kalau ditempuh melalui perjalanan udara dari bandara Sepinggan, Balikpapan, ke bandara Tanjung Bara, Sangata, memerlukan waktu satu jam.
  • Bandara Tanjung Bara adalah bandara kecil milik perusahaan penambangan batubara PT KPC. Hanya ada satu pesawat yang melayani route Sepinggan – Tanjung Bara, pesawat kecil milik perusahaan tambang batubara PT KPC.
  • Sarana Pendidikan : Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Daarussalaaam, SD Negeri (19), [Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT) Daarussalaam], SMP Negeri (2)SD YPPSB, SMP YPPSB (8), SMA Negeri (2), SMA Swasta (3)

Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Daarussalam merupakan lembaga pendidikan formal yang didirikan pada tanggal 21 Juni 2001 dan berada di bawah naungan Yayasan Pembina Muslim Daarussalam (YPMD) yang berlokasi di Jalan Jendral Sudirman Swarga Bara, Kutai Timur.

  • Sarana Ibadah : Mesjid dan Gereja
  • Sarana Kesehatan : Puskesmas (4), Puskesmas Pembantu (5), Balai Pengobatan (1)[1]

Objek Wisata

Batubara

Di Sangatta terdapat perusahaan penghasil batubara yaitu PT. Kaltim Prima Coal yang berdiri sejak tahun 1991. Pada tahun 2007 perusahaan tambang ini memperkerjakan lebih dari 3.500 karyawan dan 5.000 karyawan kontraktor.

Kegiatan tambang batubara di pinggir kota Sangata di kelola oleh PT KPC. Area penambangannya sangat luas dan merupakan tambang batubara terbuka. Di area penambangan, beraneka macam kendaraan berat sibuk melakukan kegiatan penambangan. Excavator menggali, mengambil, kemudian menumpahkan batubara ke dalam bak dump truck yang sudah siap menunggu. Dump truck yang sudah penuh batubara kemudian berjalan menuju tempat penampungan sementara di pelabuhan. Dari tempat penampungan sementara, batubara dimasukkan ke dalam kapal pengangkut dengan menggunakan belt conveyor. Kapal pengankut yang sudah penuh batubara pergi meninggalkan pelabuhan menuju tempat tujuan. Sebagian besar menuju ke luar negri, menuju negara import.

Muatan kapal pengangkut cukup banyak. Untuk kapal ukuran kecil, sekali angkut mencapai antara empat puluh ribu sampai delapan puluh ribu ton. Konon, jumlah produksi penambangan batubara oleh PT KPC di Sangata pada tahun 2007 mencapai sekitar 40 juta ton. Sebagian besar di export dan sebagian kecil untuk kebutuhan pembangkit listrik PLN.

Sebagai penambang batu bara besar milik keluarga Bakri, perusahaan ini membangun komplek elit tempat hunian para karyawannya. Dengan fasilitas yang lengkap, mewah, dan modern, fasilitas ini meliputi perkantoran, perumahan, fasilitas olahraga, klinik kesehatan, pendidikan, ibadah, dsb. Fasilitas olahraganya sangat lengkap, meliputi lapangan tenis, badminton, bola voli, lapangan bola, kolam renang dan lapangan golf. Bahkan bandara Tanjung Bara, juga berada dalam komplek penambangan batubara PT KPC.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

 

Para Pegawai

Link Applikasi

Site Translation

English French German Italian Portuguese Russian Spanish